Powered By Blogger

Gunung Efjajallajokull

Ey...Jaf...Jal...La...Jo...Kull. Begitulah ejaannya. Yup. Gunung ini selain namanya yang susah, letusannya pun juga menyusahkan. Inilah info selengkapnya!!!

Gunung Efjajallajokull (disebut juga gunung Islandia)

Gunung yang sukar dibaca namanya ini terletak di Islandia. Gunung ini termasuk gunung berapi yang masih aktif, dengan ketinggian 1666 mdpl. Dari kejauhan, gunung ini seperti memakai topi putih (bukan topi sekolah lho, yaaa...) Maksudnya topi putih, sebagian puncaknya tertutup oleh es.

Letusan Gunung Islandia:
  • Gunung ini sebenarnya jarang meletus. Letusan terakhir terjadi kira-kira tahun 1821-1823. Yup, karena adanya es di bagian puncak gunung itu, letusannya melelehkan es tersebut dan menimbulkan banjir. sesudahnya, gunung ini lumayan tenang.
  • Pada bulan Desember 2009, aktivitas vulkanisme di gunung Islandia  mulai meningkat lagi. Gempa-gempa vulkanik terjadi berkali-kali. Akhir Maret 2010, gunung ini meletus dengan hebatnya Innalillahiwainalillahiraji'un. 
  • Beberapa minggu berselang, tepatnya tanggal 14 April 2010, gunung ini meletus lagi. Kali ini, letusannya terjadi di bawah es yang ada di puncak gunung itu. Ternyata benar, es di gunung meleleh, dan mengakibatkan banjir bandang. Ratusan penduduk juga dievakuasi untuk menghindari banjir. Tak hanya itu, asap letusan juga membumbung tinggi setinggi 9000 mdpl. Ditambah lagi, debu-debu vulkanis yang dihasilkannya mengganggu penerbangan, jadi beberapa bandara sempat tutup. Debu vulkanis itu menyebar di negara Islandia, Norwegia, Denmark, Polandia, Inggris, Bulgaria, Austria, Belarus, Kroasia, Estonia, Belanda, Jerman, Hungaria, dan lain-lain. Dampak bonusnya, banyak penumpang yang terlantar, dan banyak korban jiwa karena banjir bandang itu.
Sejumlah penampakan di gunung itu terlihat. He-he... Tapi bukan penampakan hantu, lho ya... Penampakan-penampakan ini disebabkan karena fenomena alam sendiri. (tapi ada yang tidak). Tanpa basi-basa lagi, inilah fotonya. Mau lihat selama apapun boleh. Copypaste juga boleh.

1. Fenomena badai petir saat gunung itu meletus:
dumesti-silaban.bolgspot.com

 Fenomena ini disebabkan oleh awan Pyrocumulus (awan yang terbentuk karena kebakaran / ledakan besar yang menghasilkan arus udara yang kuat). Uap air yang dihasilkannya akan dilepaskan ke udara dan membentuk awan. Muatan listrik yang berbeda-beda di awan itu saling bergesekan, dan akhirnya terjadilah petir. Sangar, kan gambarnya!

2. Fenomena kawah berbentuk wajah manusia (sedang menyeringai) di kawah gunung 
ceritadisini.com
 Gambar ini diambil dari pesawat penjaga pantai yang sedang memantau aktivitas di gunung Islandia. Hal ini terjadi karena erupsi dari gunung tersebut menghancurkan sebagian dari puncak gunung berapi itu. Sama seperti letusan Merapi tahun 2010 silam. 

3. Fenomena UFO saat meletusnya gunung Islandia


Terlihat ada bintik-bintik berwarna putih di langit tepat di atas kawah gunung yang sedang meletus (gambar ini sudah diperbesar berkali-kali). Beberapa pihak mengatakan, bintik-bintik putih itu adalah segerombolan angsa. Tapi, kelihatannya bukan. Kalau itu angsa, mereka tak mungkin bisa melewati kawah dan letusan gunung. So, ini must be misteri...

4. Fenomena keluarnya batu raksasa dari dalam kawah
Batu raksasa berukuran tinggi 50 meter seberat 1.000 ton turut keluar dari kawah gunung berapi di Islandia beberapa waktu lalu. Saking besarnya, batu itu membuat heboh dunia setelah fotografer Ragnar Sigurdsson(52) mengabadikan dan mempublikasikannya dalam bentuk buku berisi kumpulan foto-foto erupsi.Batu itu merupakan bagian dari hasil letusan gunung Eyjafjallajokull yang meletus Maret silam hingga mengganggu penerbangan negara negara Eropa. Letusan itu telah memuntahkan abu setinggi 55.000 kaki dengan suhu 1.000 derajat celcius, Maret tahun ini.
dumesti-silaban.blogspot.com

Batu itu jatuh menggelinding dari kawah karena terbawa oleh arus air yang disebabkan mencairnya gletser dan salju di puncak gunung, saat letusan, tentunya.

Alhamdulillah, beberapa hari kemudian, debu-debu vulkanis menghilang. Barulah pesawat-pesawat mulai berseliweran di langit Eropa. Kehidupan penduduk juga sudah pulih. Sampai sekarang, gunung ini menjadi tenang kembali. Subhanallah, ternyata ada saja bencana di bumi ini. Sudah sepantasnya kita berdoa pada Yang Kuasa, semoga bencana ini tak kembali. Amin.
Ya, begitulah. Ketika sebuah gunung berapi meletus, mereka mengeluarkan tamu yang bernama lahar, awan panas, bahkan hujan abu + kerikil. Untuk gunung Islandia ini, ada tamu baru yang bernama banjir dan badai. o   o
                                                                    -
Ini blog umum, bukan blog TNI. Jadi, kalau mau copypaste silahkan saja.


Ada awan putih, ada awan hitam. TAPI, ada juga awan coklat! Penasaran? Klik disini!

Ada jejak kaki, ada jejak karbon pula. Mau tahu infonya? Klik disini!

Awan Coklat




satriasputra.com
 Awan Coklat:    Ini bukanlah awan yang menghasilkan hujan coklat. Awan ini adalah awan yang mengandung air yang bercampur debu udara dan karbon hitam. Karbon hitam berasal dari sisa pembakaran kayu dan minyak yang tidak sempurna. Termasuk asap hitam yang keluar dari knalpot kendaraan, kompor, dan kayu bakar. Ilmuwan menemukan  bahwa awan coklat suka menyimpan sinar dan panas matahari (sudah termasuk sinar infrared, sinar-x, sinar gamma, dan gelombang radio). Awan cokelat juga suka menangkap panas yang dilepaskan permukaan bumi. Akibatnya, hal ini membuat atmosfer planet bumi bertambah panas. Jadi, awan ini adalah salah satu faktor penyebab pemanasan global (Global Warming). Awan ini telah muncul di: Timur Tengah, India, Cina, AS, dan Afrika. Adapun bahaya dari awan cokelat ini adalah:
  •  Hujan dari awan coklat bersifat kotor dan gelap. Jika hujannya terjadi di pegunungan bersalju/kutub planet bumi, maka salju jadi berwarna gelap karena sifat tadi. Salju yang berwarna gelap lebih menyerap matahari daripada memantulkannya. Akibatnya, salju                                                                                                       gampang meleleh. Hal ini bisa menyebabkan banjir dan meningkatnya volume air laut.
  •  Awan cokelat mengurangi sinar matahari sampai ke tanaman. Akibatnya, fotosintesa tanaman berkurang, makhluk hidup heterotrof        (manusia dan hewan) bisa kekurangan pangan. Sehingga bisa terjadi kelaparan massal dan kenaikan harga pangan.
  • Awan cokelat berasal dari asap hitam dan kotor. Jadi, suhu bumi meningkat jadi 2,3 derajat Celcius. Asap hitam juga menyebabkan polusi udara. Air dari awan coklat pun bisa bersifat asam dan kotor. Sehingga menyebabkan pencemaran air dan tanah, dan lebih banyak keracunan!
Cara ampuh mengatasi menghambat perkembangan awan cokelat (kita hanya bisa menghambat, karena sulit sekali untuk mengatasinya)
  •                                  Mengurangi  emisi yang dihasilkan dari kendaraan bermotor
  •                                  Melakukan penghijauan untuk mengurangi polusi udara
  •                                  Mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan (air, angin, sinar  matahari. Tentunya, kecuali kayu bakar).
  •                                  Membuat sanksi tegas bagi penebang liar


Apakah anda yakin besok anda bangun kembali? Jika tidak, katakan Alhamdulillah sekarang.

Selain jejak kaki, ada juga jejak karbon, lho! Penasaran? Klik Disini!
Ada gunung yang letusannya sulit, letusannya juga menyulitkan. Mau infonya? Klik Disini!







Jejak Karbon yang Aneh



Pssssccchhh! Suara-suara mesin pabrik sedang beradu mengeluarkan asapnya. Yups! bicara tentang itu, saya teringat tentang cerita jejak karbon. OK. Sumangga dimirengke!

 Jejak Karbon yang Aneh: Karbondioksida yang lazim disebut Co2 ini ada di mana-mana, baik secara alami atau karena ulah manusia. Kita semua tahu, bahwa gas ini berfungsi untuk menjaga agar sinar matahari tidak keluar lagi keluar angkasa. Akan tetapi, gas ini dapat dihasilkan dari sesuatu yang tidak kita duga. Mau tahu apa itu? Disilah penjelasannya. Eng ing eng........ 

• Jejak Peternakan: Wah... Jejak  karbon ditemukan pada sapi, kambing, ayam, dan babi. Rupanya,  hewan ternak ini paling besar ditemukan di dunia. Kok bisa? Hewan-hewan ini menghabiskan banyak pakan.  Pakan itu berupa jagung, kedelai, dan rumput. Nah, ketika kita menanam tanaman itu, tentunya kita harus menebang hutan untuk dijadikan kebun (proses penggundulan lahan).  Lahan yang gundul tidak bisa menghambat produksi Co2. Selain itu, pakan ternak harus diangkut dengan mobil dari satu negara ke negara yang lain. Lalu, daging, telur, susu juga harus diangkut dari desa ke kota pakai alat transportasi. Transportasi itu menghasilkan gas karbondioksida. Jadi, jejak   peternakan sebagai penghasil Co2 TERBESAR!
Cara mengatasi: Pemilik kebun BOLEH membuat ladang di area hutan, tapi harus memenuhi syarat dan aturan yang berlaku. Mungkin tidak boleh mengeksploitasi lahan besar-besaran. Kita BOLEH mengkonsumsi makanan dari hewan ternak. Asalkan, KALAU BISA kita beli daging dari daerah kita. Toh hewan ternak di Indonesia lebih enak dan murah.

•  Jejak Pakaian: Lha. Ternyata baju juga punya jejak karbondioksida juga! Wajarlah. Karena pakaian kebanyakan terbuat dari kapas. Untuk membuat kebun kapas, kita harus menebang hutan pula. Baju dari serat buatan juga menghasilkan gas Co2 di udara. Jangan lupa terhadap distribusinya yang juga menghasilkan gas Co2. Jadi, pakaian yang dari kapas/serat sintetis punya jejak karbon No. 2 di dunia.
Cara mengatasi:  Kita boleh-boleh saja membeli pakaian. Of course, itu kan kebutuhan primer. Yaa... Untuk meminimalisasir Co2 yaa... Cintai saja produk dalam negeri.

• Jejak Rumah: Ya elaaaahhh... Kan rumah sebagai salah satu kebutuhan primer kita! Masa sebagai penghasil jejak karbon???!!! Faktanya, kayu untuk bahan bangunan kan berasal dari hutan. Bisa ditebak, kan kalau untuk hasilkan kayu, kita harus menebang pohon dulu. Lagipula, untuk membangun rumah, kita butuh lahan juga. Terus, bagaimana dengan limbah yang kita buang sehari-hari? (kayu bakar, kompor, dll). Limbah itu juga menghasilkan Co2!
Cara mengatasi: Kita BOLEH membangun rumah, ASALKAN jangan membabat hutan secara liar. Lalu, kita mungkin bisa menggunakan alat dengan limbah yang ramah lingkungan.

• Jejak Rekreasi: Ini sih... Payah amat........ Kok bisa? Ternyata, tempat rekreasi sebagai jejak karbon terbesar No. 4! Karena, untuk membuat tempat rekreasi, lagi-lagi kita butuh lahan kosong, apalagi yang tempatnya di hutan. Sudah tahu, kan? Plus, tempat rekreasi kayak ice skatting dan taman butuh listrik yang tidak sedikit. Pembangkit listrik kan butuh batu bara yang dibakar. Nah, batu bara yang dibakar itu juga menghasilkan Co2 yang tak sedikit pula.
Cara mengatasi: Sekarang ini sudah banyak pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Jadi jangan terlalu kuwatir.

• Jejak  Sayur: Waduh. Duh!! Celaka duabelas!!! Sayur juga punya jejak  karbondioksida?  Tapi, sayur  kan tanaman? Iyaps. Tapi, untuk membuat ladang sayur, kita harus menggunduli hutan dulu. Ditambah lagi dengan transportasinya? Sayur juga harus diangkut dari desa ke kota. Coba hitung. Berapa pohon yang harus ditebang untuk membuat kebun dan Co2 yang dihasilkan dari transportasinya.
Cara mengatasi: Sama seperti jejak ternak dan pakaian.

• Jejak ransportasi Umum:  Aneh. Jejak transportasi adalah penghasil karbondioksida terkecil? Kan itu semua pakai bahan bakar. Yaiy! Sebentar... Transportasi yang punya jejak  karbon kecil adalah transportasi umum.  Yups! Jika kita semisal berkendara jalan kaki/bersepeda, maka akan mengeluarkan banyak Co2 dari napas kita. Jika kita memakai angkot, bis, kereta api, pesawat terbang, atau kapal, kita hanya memakai sedikit energi dan Co2. Ya, wajar kan kalau transportasi umum punya jejak karbon terkecil.....????
Cara mengatasi: Tidak perlu diatasi karena ini hal yang baik untuk berpergian. 

Mau komentar, silahkan. Mau spam, JANGAN silahkan. 

Ada awan putih, ada pula awan hitam. TAPI, ada juga awan coklat! Mau infonya? Klik disini.
Gunung ini namanya dan letusannya menyusahkan sekali. Penasaran? Klik disini.